Inbisath

Home » Indonesian » Karya-karya » Tasawuf » Inbisath

Kata “inbisath” berarti “perluasan” (tawassu’), “penyebaran” (intisyâr), “kedalaman internal”, dan keunggulan seseorang atas tabiatnya sendiri. Para sufi biasa mendefinisikan “inbisath” sebagai: terbuka dan ridhanya hati terhadap segala sesuatu, melalui ucapan yang baik dan wajah yang semringah, sesuai dengan batas-batas syariat. Dalam konteks hubungan dengan Allah s.w.t., “inbisath” adalah dominasi kondisi khauf dan raja` terhadap diri manusia. Kondisi ini lazim dicapai oleh para sufi. Mereka selalu menyembunyikan napas mereka di dalam wibawa hudhur (kehadiran bersama Allah). Kemudian mereka melepaskannya dalam puncak hudhur dan kesenangan. Setiap kali mereka menarik napas mereka akan merinding, dan setiap kali mereka mengembuskan napas mereka akan merasa senang.

Berdasarkan definisi di atas, kita dapat membagi inbisath menjadi dua bagian, dari aspek hubungan kita dengan manusia dan dari aspek hubungan kita dengan Allah s.w.t.:

1-Inbisath dalam hubungan kita dengan manusia: Yaitu dengan menjaga hubungan kita dengan Allah, dalam bentuk interaksi individu dengan orang lain sebagai manusia biasa seperti manusia lainnya, atau berdasarkan tingkat pemahaman dan kecerdasan mereka. Ketika berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya, Rasulullah s.a.w. tidak pernah bersikap menyusahkan. Alih-alih, beliau justru terkadang bergurau dengan mereka dan bersikap lembut terhadap mereka melalui kata-kata yang mengandung hikmah, sesuai dengan tingkat pemahaman mereka masing-masing. Beliau selalu senang terhadap orang-orang yang hidup dalam muraqabatullah (menyadari pengawasan Allah), serta menyarankan agar mereka banyak senyum, gembira (inbisath), dan lapang dada. Itu beliau sampaikan karena hati laksana cermin yang terkadang dikotori oleh kesungguhan sehingga ia hanya dapat dibersihkan menggunakan gurauan ringan yang dapat megnhilangkan kotoran tersebut.” Demikian yang dinyatakan oleh pengarang kitab al-Minhaj.

2-Inbisath dalam hubungan kita dengan Allah: Yaitu berembusnya angin inbisath dalam bentuk kehidupan yang diiringi sikap khauf dan raja` di dalam jiwa, pada satu hâl yang mengungguli semua hâl. Khauf dan raja` yang termasuk hâl jiwa adalah dua tanda atas hubungan para pemula atas hubungan mereka dengan Allah. Adapun inbisath yang menjadi hâl para ahli makrifat sejati adalah sebuah dimensi lain dari kehidupan hati yang merupakan sebuah kondisi istimewa yang hanya dimiliki para spiritualis (arbâb al-qulûb). Kondisi orang-orang yang tidak pernah mencapai inbisath tapi tampak seperti inbisath, meski mereka memiliki kelembutan makrifat, namun mereka sering terseret kepada penghancuran sikap mawas diri dan ketidakpedulian yang merupakan bentuk adab yang buruk di hadapan Allah s.w.t..

Inbisath tampak pada maqam di mana seseorang menjadi cermin yang merefleksikan asma dan sifat-sifat Allah yang mulia. Itu terjadi setelah ia terbebas dari berbagai bentuk keinginan jasmani dan hasrat fisik. Adalah sama saja apakah kita menggunakan istilah derajat “al-jam’” (penyatuan) atau “al-mahw” (penafian diri) untuk menyebut maqam yang satu ini. Karena hasilnya sama saja, yaitu sebuah titik yang mengandung banyak rahasia, di mana di situ seorang hamba akan terbentuk oleh embusan dari Allah s.w.t. dan dia akan terwarnai oleh berbagai warna yang luhur. Ketika para al-wâshilûn (orang-orang yang sampai) berhasil sampai di titik ini, maka mereka sama sekali tidak dapat menyembunyikannya. Sedangkan yang dikatakan oleh para al-mubtadi`ûn (pemula) -yang belum sampai di titik ini- tentang inbisath sebenarnya adalah sesuatu yang memalukan.

“Sesungguhnya setiap teman Sultan selalu memberi petunjuk dan bersikap lapang (inbisath). Jadi janganlah Anda bangkit ketika berdekatan dengannya, karena Anda tidak memiliki tugas seperti itu. Wahai Anda yang tidak mampu menyelamatkan diri dari ikatan alam fana ini, hendaklah Anda tahu arti dari al-mahw (penafian diri), al-sukr (ekstase), dan inbisath!”

Sungguh tenteramlah rohmu wahai Maulana Rumi. Karena bagaimana mungkin para penyembah badan dan jasad dapat mengenal roh?! Bagaimana mungkin para orang rohani penguasa laduni dapat mengenal mereka yang terperangkap oleh tubuh?!

Hendaklah ditanya orang-orang yang hati mereka dipanggang api kebenaran Allah s.w.t. lima puluh kali, tentang nyeri akibat kalbu yang terbakar dan kelapangan yang berkelindan dengan berbagai warna metafisik.

Wahai Allah, buatlah kami mencintai iman, hiaslah hati kami dengan iman, dan buatlah kami benci pada kekufuran, kefasikan, kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lurus.

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada Sayyidina Muhammad dan segenap keluarga dan para sahabat beliau.

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message