Surah al-Jin [72]: 1-2

Home » Indonesian » Karya-karya » Tafsir Al-Qur’an » Surah Al-Jin » Surah al-Jin [72]: 1-2

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُۤوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًا۝يَهْدي إِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِه وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَۤا أَحَدًا
Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami.” (QS. Al-Jin, 1-2)

Firman Allah di atas menerangkan tentang kejadian yang menerangkan bahwa adanya hubungan manusia dengan sekelompok jin bukanlah kisah kosong yang dibuat-buat, tetapi kita wajib memahaminya sebagai suatu kejadian yang luar biasa, karena manusia yang mempunyai pikiran yang sehat, tetapi mereka mempunyai hubungan dengan jin.

Al-Qur’an menerangkan kejadian yang mengagumkan ini, agar kita dapat mengerti bahwa ada sekelompok jin yang mau meresapi ajaran Al-Qur’an. Andaikata tidak diceritakan oleh Al-Qur’an yang benar, kita tidak akan mengerti bahwa ada sekelompok jin yang merasa kagum ketika mendengar bacaan Al- Qur’an. Mereka tidak sekedar mendengarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi mereka mengakui bahwa Al-Qur’an telah memberi pengaruh kepada diri mereka, sehingga mereka menjadi hamba Allah yang beriman, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
Artinya: Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.’” (QS. Al-Jin, 1)

Maksudnya, setelah mereka mendengar bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, maka hati mereka terpengaruh oleh rahasia Al-Qur’an, sehingga mereka menyatakan beriman, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا
Artinya: “Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami.” (QS. Al-Jin, 2)

Rasulullah Saw. telah berulang kali berhadapan dengan kelompok jin. Adapun bagaimanakah caranya beliau Saw. menemui para jin itu ? Maka kami tidak dapat menerangkannya di sini, karena Rasulullah Saw. mempunyai kepribadian yang sangat tinggi, sehingga beliau Saw. dapat berhubungan dengan alam fisika maupun alam metafisika. Maksudnya, alam metafisika itu lebih tinggi dari alam fisika. Karena itu, masalah ini tidak dapat kami rasakan secara naluri, sehingga kami tidak dapat menerangkannya.

Pokoknya, dari firman Allah di atas, dapat kita simpulkan bahwa pribadi Nabi Saw. dapat dibanggakan oleh kelompok manusia maupun oleh kelompok jin, karena beliau Saw. diutus untuk semua manusia dan jin, sehingga para jin dapat menerima ajaran Al-Qur’an dan mereka mau beriman kepada-Nya, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
Artinya: Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan.’” (QS. Al-Jin, 1)

Maksudnya, setelah jin mendengar sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an, maka mereka segera mengumumkan keimanan mereka kepada Al-Qur’an. Hal ini berbeda dengan kaum musyrikin Quraisy, meskipun mereka telah berulang kali melihat berbagai mukjizat dan mendengar firman-firman Allah, tetapi mereka tidak mau beriman. Bahkan sekelompok jin yang telah beriman, mereka ingin segera kembali untuk mengajak kaumnya beriman dan masuk Islam tanpa menunda sesaatpun.

Sebagai penutup marilah kita berdoa sebagai berikut:

رَبَّنَا أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Artinya: “Tuhan kami, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kesempatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kesempatan untuk menjauhinya.”

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message