Tugas Terbesar Bangsa Kita

Home » Indonesian » Karya-karya » Membangun Spiritualitas Kita » Tugas Terbesar Bangsa Kita

Tugas Terbesar Bangsa Kita

Saat ini seluruh dunia sedang mengalami musim semi. Semua orang bersepakat bahwa masa depan harus menjadi lebih baik walau sebesar apapun masalah yang pernah kita hadapi di masa lalu. Itulah sebabnya, kita harus membuka mata pada kondisi orang-orang yang ikut membangun fenomena universal ini dengan penuh kesungguhan, tekad, dan kinerja yang luar biasa baik. Tidak diragukan lagi, setiap cendekiawan harus memikirkan masa depan negara dan bangsa kita. Namun satu hal yang masih meragukan adalah apakah semua orang sudah menyadari tanggung jawab mereka ataukah belum. Bagi saya, salah satu hal yang meyakinkan adalah bahwa ada beberapa orang di negeri ini yang sejak beberapa tahun terakhir telah memikul beban masa depan. Merekalah orang-orang yang berharap bahwa jalan yang mereka bangun akan dapat menghantarkan kita semua ke tujuan di masa mendatang.

Negara dan tanah ini, yang sejak lama telah dibasahi oleh darah jutaan orang yang mengorbankan nyawa mereka, saat ini tengah menempuh perjalanan hidup bersama anak-anaknya yang sangat loyal padanya, menyusuri masa lalu ke masa depan. Mereka semua memiliki harapan dan cita-cita besar untuk memajukan bangsa mereka. Anda dapat melihat tangan dan kaki mereka selalu sibuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, sementara tangan dan kaki mereka yang lain juga sibuk menyiapkan rencana masa depan. Anda bahkan dapat melihat mereka telah membaktikan segenap perasaan dan kesadaran mereka untuk menggenapi pemikiran dan ide-ide yang mereka miliki.

Kita bahkan dapat mengatakan bahwa sejarah masa lalu kita yang agung dan rakyat yang cerdas, yang telah berhasil memenuhi tugas mereka selama seribu tahun dan menunaikannya dengan sangat baik, saat ini kembali merasakan gelora di dalam jiwa mereka yang luar biasa. Banyak di antara generasi baru ini yang menunjukkan bahwa seakan-akan mereka adalah simbol dari semua tugas ini dan menjadi representasi misi ini dengan kesadaran akan kesatuan dan solidaritas, serta tekad yang kuat untuk maju bersama bangsa mereka mengungguli semua bangsa lain. Tampaknya, masa depan akan berada dalam genggaman mereka asalkan tidak ada badai kuat yang menghantam mereka.

Di masa lalu, tugas berat ini mulai menyebar ke segenap penjuru dunia di tangan para tokoh Islam. Adalah dinasti Bani Umayyah dan Abbasiyah yang melakukan semua itu yang kemudian dilanjutkan pada masa berikutnya oleh dinasti Seljuk dan terakhir digenggam oleh kesultanan Turki Ottoman, sebelum akhirnya musnah dalam sebuah malapetaka besar yang telah kita ketahui bersama.

Tapi saat ini, kita dapat melihat tren kebangkitan baru yang merambah kota-kota dan kawasan pelosok, rumah tangga dan negara, jalan raya dan sekolah, seni dan sains, amal dan akhlak. Bahkan mulai saat ini kita dapat melihat antusiasme untuk mengemban tugas ini menyemburat di seluruh penjuru bagaikan cahaya fajar yang akan segera menyingsing berkat jasa mereka yang telah membuat peta spiritual bagi negeri ini dengan hati mereka dan mewarnainya dengan air mata. Kalaupun kemudian banyak orang yang mengatakan bahwa yang akan muncul adalah fajar kizib, maka kesaksian satu orang saksi yang jujur atas terbitnya mahatari dalam waktu dekat sesungguhnya telah menjadi fajar sidik yang menyingsing di kaki cakrawala jiwa manusia.

Berkebalikan dari ketamakan pada materi, gila kedudukan, cinta dunia, lemah di hadapan popularitas, takut kehilangan dunia, dan sikap busuk lain yang telah menggerus tugas spiritual dan intelektual kita… Berkebalikan dari sikap mengagung-agungkan segala yang akan musnah dan ditinggalkan… Saat ini kita dapat melihat kehancuran semua sifat buruk seperti itu yang kemudian berganti dengan segala hal yang berporos pada rohani dan moral. Saat ini kita melihat munculnya para pewaris nilai-nilai lama yang semua mereka adalah para representator ilmu, seni, akhlak, dan keluhuran. Merekalah para calon terbaik untuk memainkan peran ini. Saat ini kita melihat mereka tampil untuk menggantikan posisi orang-orang yang dulu sering berkoar-koar meneriakkan slogan membela negara dan mengangkat derajat negara ini agar setara dengan negara-negara barat. Merekalah yang akan menggantikan posisi orang-orang dungu yang suka memamerkan pemikiran mereka yang payah dan khayalan mereka yang sebenarnya hanya berupa mimpi kosong tak bermakna.

Saat ini, pertarungan masih terus terjadi di bidang politik, kemaslahatan umum, dan berbagai bidang penting lainnya. Hingga saat ini masih ada orang-orang yang terus berusaha mencari kesempatan untuk dapat memuaskan ketamakan mereka meski untuk itu mereka harus menjerumuskan rakyat ke dalam kerusakan dengan dalih untuk menyelamatkan negara, membudayakan masyarakat, menaikkan derajat bangsa, dan berbagai semboyan sesat yang patut kita waspadai dengan cermat.

Tapi sebelum Anda mengeluh, saya harap Anda tunjukkan kepada saya zaman manakah yang pernah dilewati para pendahulu kita yang sama sekali steril dari manusia-manusia durjana seperti itu?!

Ya. Orang-orang jahat memang selalu ada di setiap masa. Dan kita pasti akan menemukan mereka di masa mendatang sebagaimana kita menemukan mereka saat ini! Sejarah yang kita kenal saat ini adalah juga sejarah orang-orang yang saling memaki, saling menerkam, saling menjebak, saling mengkhianati, dan saling mendusta. Tapi sejarah kita ini juga adalah sejarah manusia-manusia saleh dan para orang baik-baik. Jadi apakah saya perlu menjelaskan lebih detail tentang semua ini, padahal kita cukup melihat sejarah yang baru kita lewati jika kita memang ingin membiarkan diri kita ketakutan!

Berapa banyak nyawa yang melayang percuma demi demokrasi?!

Berapa kali perpecahan terjadi membelah masyarakat kita sehingga membuat satu kelompok mendadak berubah menjadi serigala bagi kelompok lain?!

Berapa sering hati kita sendiri diliputi rasa dengki, marah, dan benci?!

Itulah sebabnya kita tidak perlu bermimpi terlalu muluk untuk dapat menghilangkan perpecahan di masa mendatang dari tengah masyarakat seperti yang terjadi sekarang. Sebab bahkan masyarakat yang paling bersih pun tidak pernah terhindar dari keberadaan orang-orang jahat; para penipu yang gemar mengadu-domba, para pengeksploitasi yang gemar merusak, para pengikut nafsu yang selalu berhasil menyembunyikan kebusukan mereka… Seperti yang sejak dulu selalu terjadi… Tapi kenyataan juga selalu menghibur kita dengan keberadaan orang-orang baik yang selalu bersemangat menyebarkan aroma semerbak kebaikan di seluruh dunia.

Hari ini, sangkalala pendidikan dengan berbagai macam nama dan julukannya yang bermacam-macam, serta usaha keras untuk menyeru manusia ke arah cinta, toleransi, dan dialog antargolongan; kedua hal ini adalah sebuah upaya penting dalam perjalanan menuju pemberdayaan masyarakat dan untuk memotivasi sumber-sumber potensi spiritual mereka. Semua itu adalah sebuah upaya yang dapat dilakukan dengan menyelamatkan bahtera masyarakat kita yang akan segera berlabuh di tujuan, di tangan sebuah generasi yang beriman tapi terikat oleh metafisika yang sesat.

Orang-orang naas yang kehilangan belahan jiwa mereka ini bertebaran di suatu wilayah sangat luas di masa lalu. Dari Yaman sampai Balkan, dari sahara Arabia sampai dataran Asia. Mereka semua mampu meraih apa yang telah hilang dari diri mereka dengan perjuangan kemerdekaan yang hebat untuk kemudian mewujudkan cita-cita mereka membangun sebuah dunia baru. Adapun saat ini, generasi masa kini yang telah kehilangan roh dan jati diri mereka serta tergerus nilai-nilai kemanusiaan, moral, dan keluhuran baik dalam bidang pemikiran maupun seni, pasti akan menyaksikan sebuah “kebangkitan dari kematian” yang akan terwujud di bawah naungan kebebasan spiritual dan stabilitas intelektual.

Abad kesembilan belas dan kedua puluh memang telah menjadi masa disintegrasi dan kemunduran kita. Untuk waktu yang relatif lama kita tidak berhasil menemukan biang keladi yang sebenarnya dari terjadinya kedua hal buruk tersebut. Tapi tentu Anda boleh menganggap bahwa di zaman itu pemikiran kita memang sengaja disesatkan secara sengaja oleh pihak-pihak tertetu. Itulah sebabnya kita melihat begitu banyak kemunduran dalam bidang agama, ilmu, seni, dan estetika. Terjadi pula pertarungan arus pemikiran yang telah berubah menjadi arus pengingkaran terhadap kebenaran dan kekufuran. Di bahwa bayang-bayang mimpi kosong dan kebingungan. Bahkan telah muncul “gaya” penyesatan ilmu dan sofisme yang mengganti peran kecerdasan ilmiah, penyesatan yang mengganti peran peradaban, dan distorsi yang mengganti peran perjuangan. Ada orang-orang yang berusaha sekuat tenaga karena mengira bahwa manipulasi adalah sebuah bentuk kepintaran, untuk meghancurkan kebenaran sejarah melalui penyesatan dan kebohongan.

Sekarang cobalah Anda lihat betapa indahnya takdir Tuhan. Karena dinamika sejarah dan akar spiritual masyarakat masih tegak berdiri di atas kakinya yang kokoh. Hal ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang terpuruk dan lari ketakutan!

Bangsa yang kembali bangkit dengan mengikuti jalan Rasulullah s.a.w. ini, selalu berdendang mengikuti senandung eksistensi dan kebangkitan baru bersama semilir angin musim semi. Seperti benih bunga lili ketika muncul dari bumi sedikit demi sedikit sampai akhirnya menguasai seluruh penjuru setapak demi setapak.

Hari ini kita melihat diri kita –meski hanya sampai batas tertentu- memiliki tekad yang semakin kuat dan pendirian yang semakin kokoh karena kita menyandarkan diri pada harapan dan kelapangan hati yang muncul setelah kita kembali kepada jati diri kita sendiri. Sungguh saya berharap agar setiap usaha yang kita lakukan dan setiap tetes air mata yang jatuh setelah ini, sebagaimana pada masa lalu, dapat menjadi obat bagi semua penyakit yang kita derita yang sempat dianggap takkan tertersembuhkan, sekaligus menjadi cahaya bagi masa depan yang terlihat gelap oleh sebagian kita.

Saat ini kita tengah memasuki pintu gerbang abad kedua puluh satu. Masa depan negara kita dan semua negara yang memiliki hubungan dengan kita, sepenuhnya tunduk pada bimbingan pasukan cahaya yang memiliki sayap sinar yang akan menjadi contoh ideal bagi siapa saja disebabkan kedalaman ilmu, keluhuran hati, dan ketulusan akhlak yang mereka miliki. Merekalah orang-orang yang telah bersumpah untuk membaktikan diri mereka di jalan pendidikan dan pengajaran umat. Kelak generasi ini akan menjadi generasi penuh berkah –insyâallâh- serta menjadi suara cahaya kebenaran yang memiliki pemikiran yang benar yang akan menjernihkan bangsa kita di masa-masa sulit ini. Merekalah pula yang kelak akan membimbing kita untuk merebut kembali semua harkat sejarah yang dulu pernah kita miliki.

Sungguh, segala tugas dan tujuan dari eksistensi kita sama sekali tidak berhubungan atau pun membutuhkan kekuatan fisik. Kita telah menyadari bahwa kita adalah kekuatan yang tunduk pada Kebenaran. Kita memiliki pemahaman untuk mewujudkan kebenaran yang selaras dengan pemikiran kita sendiri, interpretasi kita terhadap seni, dan ketelitian kita yang seakan mampu membelah sehelai rambut menjadi empat puluh helai. Semua itu belum termasuk apresiasi kita terhadap urgensi bidang teknik dan teknologi, industri dan percepatannya, ketinggian nilai keilmuan di antara semua nilai lainnya, dan keyakinan kita pada urgensi untuk mengimplementasikan semua itu di negeri kita.

Itulah sebabnya, saat ini kita sangat membutuhkan para pembimbing yang memiliki kecerdasan tinggi, pemikiran tajam, dan wawasan luas yang mampu menegakkan semua standar kemanusiaan kita, menaikkan kualitas pemikiran bangsa kita, membimbing kita menuju puncak spiritualitas, dan mampu menghantarkan jiwa kita semua yang merindukan surga menuju keabadian.

Negara ini benar-benar membutuhkan pahlawan pemberani yang memiliki ilmu, akhlak, keluhuran, iman, dan cita-cita tinggi. Para pahlawan yang penuh dengan cinta dan semangat, sekaligus jauh dari semua tendensi baik material maupun immaterial, baik dunia maupuan akhirat. Para pahlawan yang jauh dari ketergantungan pada partainya atau pun terlalu fanatik terhadap kelompoknya.

Menurut hemat saya, sampai kita berhasil menemukan orang-orang hebat seperti itu dan menyerahkan diri kita ke tangan mereka, maka kita –meski segala kemungkinan bisa terjadi- akan selalu terasing dan tertindas. Sungguh saya berdoa kepada Allah yang kasih sayang-Nya tak berujung, agar Dia berkenan membantu kita dengan kemunculan para pahlawan dari “kelompok Nabi Khidir a.s.” yang selalu siap membawa panji-panji kejayaan kita semua dengan tangan mereka. Orang-orang yang kedatangan mereka telah kita tunggu selama bertahun-tahun karena tanda-tanda kedatangan mereka telah kita lihat di cakrawala.

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message