Cakrawala Jiwa: Pemikiran Metafisik

Home » Indonesian » Karya-karya » Cinta dan Toleransi » Sufisme dan Metafisika » Cakrawala Jiwa: Pemikiran Metafisik

Fethullah Gülen: Cakrawala Jiwa: Pemikiran Metafisik

Pandangan dunia modern Barat konon hampir seluruhnya didirikan atas dasar gagasan materialistik yang mengecualikan atau bahkan menolak dimensi kehidupan spiritual atau metafisik. Ini masalah kontroversial, tapi banyak orang yang disebut intelektual Muslim secara membabi buta meniru dan mengimpor apa yang mereka lihat sebagai Barat, membenci dan menolak cara berpikir dan hidup tradisional masyarakat mereka.

Hal ini terutama karena mereka tidak lagi memiliki kesadaran terhadap dimensi kehidupan spiritual. Sungguh, mereka yang mereduksi kehidupan menjadi materi dan hanya memiikirkan fisik saja tidak akan dapat melihat dan memahami yang metafisik dan spiritual. Terlebih, karena mereka yang hanya bisa meniru biasanya bersikap lebih radikal dari pada orang-orang Barat sendiri, dan karena tiruan sering mengaburkan realitas, orang-orang yang biasa disebut intelektual itu menjadi lebih radikal dalam menolak hal-hal yang spiritual dan metafisik, dan kurang memiliki pengetahuan yang memadai mengenai suatu permasalahan dan hal-hal materialistik.

Karena dimensi spiritual dan metafisik mensyaratkankan kita untuk memahami jauh melampaui sensasi dan naluri kita ke dalam cakrawala yang dalam dan luas, orang-orang materialis tidak memahami atau menyukainya. Dengan kata lain, mereka membatasi pikiran mereka hanya pada apa yang dapat mereka lihat dan alami. Mereka menipu diri sendiri dan orang lain dengan beranggapan bahwa kehidupan hanya terdiri dari dimensi material, tapi mereka mengaku sebagai intelektual sejati.

Atas klaim mereka dan pernyataan orang-orang Barat sendiri, sulit untuk menerima bahwa pemikiran ilmiah Barat, meskipun memang materialistis, selalu terpisah dari spiritualitas dan metafisika. Peradaban Barat modern didasarkan pada trinitas pemikiran Yunani, hukum Romawi, dan Kristen. Yang terakhir ini, setidaknya secara teoritis, memberikan kontribusi dimensi spiritual. Barat tidak pernah benar-benar membuang pemikiran Platonis, meskipun gagal melakukan rekonsiliasi dengan filsafat positivistik dan rasionalistik. Ini juga tidak berarti bahwa pemikir seperti Pascal dan J. Jeans tidak pernah ada, atau mengecualikan intuitifisme Bergson. Bergson, Eddington, J. Jeans, Pascal, Bernhard Bavink, dan Heisenberg sama pentingnya dalam pemikiran Barat seperti halnya Comte, Darwin, Molescholt, Czolba, dan Lamarck. Sungguh, sulit untuk menemukan seorang ilmuwan ateis dan filsuf sebelum pertengahan abad kesembilan belas.

Sebaliknya, pemikiran metafisik dan spiritualitas telah hampir seluruhnya dibuang oleh banyak intelektual Muslim. Atas nama gagasan-gagasan tertentu yang telah direduksi menjadi slogan-slogan sederhana seperti “pencerahan, westernisasi, peradaban, modernitas, dan kemajuan,” pemikiran metafisik dan kehidupan spiritual telah direndahkan dan terdegradasi. Slogan-slogan tersebut juga telah digunakan untuk memukul nilai-nilai Islam tradisional.

Kita menggunakan “cakrawala harapan” untuk memaknai perjalanan di luar dimensi kehidupan yang kasat mata, dan menganggap kehidupan sebagai keseluruhan yang saling berhubungan yang jika hal ini tidak ada hal-hal dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak dapat dianggap sebagai yang sebenarnya. Tidak juga bisa dipertahankan esensi dan hubungan antara hal itu dengan sang Khaliq, demikian pula hubungan antara Dia dan umat manusia. Disiplin ilmiah yang melakukan sebagian besar wacana mereka sendiri secara terpisah dari satu sama lain dan sifat materialistik ilmu pengetahuan yang berlaku yang telah mengkotak-kotak kehidupan, tidak akan dapat menemukan realitas segala sesuatu, keberadaan, atau kehidupan.

Dalam bidang kedokteran, misalnya, manusia dipandang sebagai makhluk yang terdiri dari beberapa mekanisme yang berlainan. Konsekuensinya mudah dilihat: kehidupan dilucuti makna dan keterkaitannya dengan yang lain, dan dipresentasikan sebagai elemen-elemen yang berlainan yang hanya terdiri dari materi. Padahal, satu-satunya cara untuk sepenuhnya memahami dan menghargai kehidupan dan keberadaan adalah dengan menjalani kehidupan melalui prisma jiwa dan pemikiran metafisik. Mengabaikan hal yang demikian ini berarti memaksa kita untuk mengomentari hal-hal yang di luar jangkauan dan memenjarakan upaya intelektual dalam batas rasa kesan saja. Tetapi ketika kita mengindahkan suara hati nurani, atau dunia batin, kita tahu bahwa pikiran tidak pernah senang atau puas dengan hanya sebatas rasa kesan saja.

Semua cara berpikir yang besar, tahan lama, dan inklusif dikembangkan atas dasar metafisika dan spiritualitas. Seluruh peradaban kuno didirikan dan dibentuk oleh teks-teks suci seperti al-Quran, Bibel, Veda, dan Upanishad. Menyangkal atau melupakan para pemikir, ilmuwan, dan filsuf Barat yang anti-materialistis semacam itu, seperti Kant, Descartes, Pascal, Hegel, dan Leibniz berarti mengabaikan suatu untaian penting dari pemikiran Barat.

Kita hanya bisa membayangkan sebuah dunia baru yang lebih baik berdasarkan pengetahuan atau ilmu jika kita melihat konsep ilmu pengetahuan melalui prisma metafisika. Umat muslim belum mengembangkan konsep ilmu dalam arti yang sebenarnya, yaitu, yang berasal dari al-Qur’an dan tradisi Islam terutama yang dibentuk oleh al-Qur’an dan hadis. Penerapan ilmu pengetahuan atau teknologi oleh minoritas yang tidak bertanggung jawab dan egois telah menimbulkan lebih banyak bencana dari pada kebaikan.

Jika orang-orang muslim ingin mengakhiri penghinaan panjang ini dan membantu membangun sebuah dunia baru yang bahagia setidaknya setara dengan Barat, mereka harus mengganti teori positivistik dan materialistis kuno dengan pikiran dan inspirasi mereka sendiri. Sadar akan luka dan kesulitan masa lalu, mereka harus mengerahkan upaya besar untuk mendefinisikan masalah-masalah ini dan menyembuhkan luka itu.

Sebuah konsep ilmu pengetahuan yang benar akan menggabungkan spiritualitas dan metafisika dengan pandangan yang komprehensif dan inklusif yang menegaskan hubungan intrinsik dan tak terpisahkan antara setiap disiplin ilmu dan kehidupan secara keseluruhan. Hanya konsep yang merangkul semuanya secara keseluruhan yang dapat disebut benar-benar ilmiah. Melihat kehidupan sebagai unsur-unsur yang berlainan dan kemudian mencoba menggabungkan seluruh unsur tersebut hanya akan mendatangkan begitu banyak keanekaragaman. Sebaliknya, menggabungkan seluruh unsur dan kemudian mempelajari bagian-bagiannya dari sudut pandang keseluruhan memungkinkan kita untuk mencapai kesimpulan yang benar tentang realitas kehidupan.

Spiritualitas dan metafisika juga menyediakan seni dengan dimensi yang luas. Sebenarnya, seni bisa mencapai identitas yang sebenarnya hanya melalui spiritualitas dan metafisika. Seorang seniman menemukan dunia batin manusia, dengan segenap perasaan, kegembiraan, harapan, frustrasi, dan ambisinya dan menemukan bagaimana kaitannya dengan dimensi di luar kehidupan. Seniman ini kemudian menyajikan semuanya dalam bentuk yang sesuai dengan media yang digunakan. Seni mengekspresikan esensi batin kita, yang terus bergerak kembali ke sumbernya. Dengan kata lain, seniman menyatukan inspirasi yang mengalir ke dalam jiwa mereka dari hal-hal dan peristiwa-peristiwa, dari segala penjuru kehidupan. Menyatukan semua yang nomena (metafisik) dan yang fenomena, mereka kemudian menunjukkan kepada kita segala hal dalam bentuk keseluruhan yang utuh.

Ingat bahwa sumber yang paling penting dari ilmu pengetahuan, pemikiran, dan seni, bahkan kebajikan dan moralitas, adalah metafisika. Semua kehidupan dapat dirasakan dengan cara berpikir yang sehat berdasarkan metafisika murni. Hal ini memungkinkan kita untuk melihat semua kehidupan secara keseluruhan, dan untuk melakukan perjalanan melalui dimensi yang lebih dalam. Tanpa spiritualitas dan metafisika, kita tidak dapat membangun suatu komunitas di atas landasan yang benar; komunitas yang demikian ini dipaksa untuk mengemis terus-menerus dari orang lain. Komunitas yang kekurangan konsep metafisik yang benar akan menderita krisis identitas.

Untuk membangun sebuah dunia baru yang bahagia yang menonjolkan kebajikan dan nilai-nilai kemanusiaan dan yang membentuk kebijakan dan aspirasi secara efektif, semua orang, terlepas dari agama apapun, harus menemukan kembali dan menegaskan kembali spiritualitas dan metafisika yang diajarkan oleh agama yang diturunkan oleh Tuhan.

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message