Agar Manusia Tidak Berdalih

Home » Indonesian » Karya-karya » Cahaya Abadi: Muhammad Saw » Para Nabi dan Rasul » Agar Manusia Tidak Berdalih

Agar Manusia Tidak Berdalih

Salah satu alasan diutusnya para rasul adalah untuk menutup pintu kesempatan bagi manusia untuk berdalih di hadapan Allah di Hari Kiamat. Allah menjelaskan hal ini dalam ayat: “(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Nisâ` [4]: 165).

Selain para nabi dan rasul, semua pemimpin di dunia memang tak ada yang mampu memenuhi keinginan semua bangsa secara berkesinambungan. Bisa jadi sebagian mereka berhasil menyenangkan bangsa  yang mereka pimpin di satu masa, tapi keberhasilan itu pasti bersifat sementara. Seiring dengan berjalannya waktu dan melapuknya pemikiran mereka, semua keberhasilan itu pasti akan rontok satu persatu seperti dedaunan di musim gugur. Hal itu terjadi karena apa yang dilakukan para pemimpin itu tidak disandarkan pada pertolongan ilahi. Padahal mereka tidak pernah bisa melampaui sifat manusiawi baik dari segi ucapan maupun perbuatan.

Adapun para nabi dan rasul, maka yang terjadi amatlah berbeda. Mereka adalah individu-invidu yang telah dipersiapkan secara matang dan telah terpilih untuk mengemban misi kenabian sejak mereka masih berada dalam kandungan. Hidup mereka mengalun indah seperti komposisi sebuah lagu, dan tutur kata mereka menyegarkan bagaikan kata-kata pujangga. Ketika mereka berbicara, seluruh semesta diam mendengarkan dan tunduk menyimak apa yang mereka ucapkan. Bayangkanlah betapa banyak hal yang berubah dengan kedatangan mereka; betapa banyak kejadian yang berbelok tak terduga dengan kemunculan mereka; betapa banyak hati yang takluk menyerah kepada mereka; dan betapa banyak aturan yang berlaku di jagad raya mendadak tak berlaku demi mereka, untuk membela mereka, atau disebabkan permintaan mereka.

Berkenaan dengan hal ini, tampaknya cukup bagi kita untuk kembali melihat apa yang terjadi pada sang Pemimpin para Rasul, Muhammad Saw. Bumi, pepohonan, binatang-binatang tunduk di hadapan beliau, seakan-akan mereka semua ingin menjalin hubungan dengan Rasulullah sebagai seorang Utusan Allah dan untuk menunjukkan pembenaran mereka atas kenabian serta risalah beliau.

Al-Bushiri bersyair:

Pepohonan datang ketika dia panggil lalu bersujud[1]

Semua kedahsyatan itu dapat terjadi karena semua makhluk berhasil mencapai fitrah penciptaan mereka masing-masing setelah kedatangan Rasulullah, sehingga jagad raya pun terhindar dari kekacauan yang mengerikan.

Ayat al-Qur`an menyatakan: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS al-Isrâ` [17]: 44).

Allah berfirman dalam ayat di atas yang mengesankan seolah-olah Dia meniupkan nyawa ke dalam semua benda di dunia. Segala yang kita pelajari saat ini telah kita pelajari dari-Nya, dan hukum segala sesuatu hanya berlaku disebabkan Dia.[2] Sampai di sini, kita harus menyatakan bahwa umat manusia pasti tidak diciptakan sebagai sebuah kesia-siaan.[3]

Setiap nabi dan rasul datang dengan membawa berbagai macam mukjizat untuk memperkokoh keimanan orang-orang yang sudah beriman dan memupus semua dalih dan alasan yang diajukan oleh semua orang yang tidak mau beriman. Adapun sang Pemimpin para Rasul datang dengan membawa semua jenis mukjizat yang pernah dimiliki oleh semua rasul dan nabi sebelum beliau.

Ya. Setiap umat memang telah menyaksikan atau mendengar beberapa mukjizat yang dimiliki nabi mereka masing-masing, akan tetapi kita telah mendengar ribuan mukjizat yang dimiliki nabi kita. Bahkan sampai hari ini kita umat Islam masih dapat memegang sebuah mukjizat abadi yang bernama al-Qur`an. Oleh sebab itu, maka tak ada seorang pun yang dapat berdalih atau mendebat Allah karena Dia, melalui para nabi dan rasul, telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya semua hakikat yang dapat menuntun manusia ke arah keimanan. Jadi jelaslah bahwa peran para rasul sebagai hujjah yang akan memupus semua dalih yang mungkin dikemukakan oleh kaum kafir telah menjadi salah satu tujuan diutusnya mereka kepada umat manusia. Apalagi Allah telah meletakkan sebuah kaidah yang termaktub di dalam al-Qur`an: “…dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS al-Isrâ` [17]: 15).

Kelak ketika nanti timbangan amal telah ditegakkan di Hari Kiamat, tak ada dalih apapun yang dapat diajukan oleh siapapun atas apa yang telah dilakukan di dunia, karena para rasul dan nabi telah diutus Allah untuk membimbing mereka.[4]

[1] Lihat: Muslim, al-Zuhd, 74; al-Musnad, Imam Ahmad 1/223; al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 6/135.
[2] Lihat: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah [2]: 129); “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 151); “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imrân [3]: 164); “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS al-Jumu’ah [62]: 2). Lihat pula: al-Musnad, Imam Ahmad 1/202 sebuah hadits tentang apa yang terjadi antara Ja’far ibn Abi Thalib dan Raja Negus (Najasyi).
[3] Ayat-ayat berikut ini dapat menjelaskan hal ini: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS al-Qiyâmah [75]: 36); “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS al-Mu`minûn [23]: 115).
[4] Lihat: “Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar (telah datang).’ Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.” (QS al-Zumar [39]: 71).

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message