Umat Islam Wajib Memerangi Penyakit Ekstremisme

Home » Indonesian » Media » Kolom Opini » Umat Islam Wajib Memerangi Penyakit Ekstremisme

Fethullah Gülen

ISIS, kelompok ekstrem yang mengklaim dirinya sebagai Negara Islam, terus melakukan berbagai tindakan destruktif di Timur Tengah. Dalam menyikapi hal ini, umat Islam harus menentang ideologi totaliter yang menjadi ciri khas ISIS maupun kelompok teroris lainnya. Setiap tindak terorisme yang dilakukan atas nama Islam berdampak serius terhadap umat Islam karena akan umat Islam akan ‘teralienasi’ dari warga masyarakat lainnya, Tindak terorisme juga akan memperdalam salah persepsi tentang agama Islam itu sendiri.

Adalah tidak adil menyalahkan Islam atas kekejaman yang dilakukan oleh kaum radikal. Namun ketika teroris mengklaim dirinya sebagai Muslim, maka identitas keislaman otomatis akan tersemat pada diri mereka, walaupun hanya sebatas permukaan. Seluruh umat Islam harus melakukan apapun yang diperlukan untuk mencegah penyakit yang seperti kanker ini menyebar di tengah masyarakat kita. Jika tidak, kita turut bertanggung jawab atas tercemarnya citra agama ini.

Pertama-tama, kita harus menolak kekerasan dan tidak menjadikan diri kita sebagai korban. Penindasan yang dialami umat Islam tidak dapat menjadi alasan untuk melakukan atau tidak mengutuk terorisme. Bukan hanya saya saja yang berpendapat bahwa teroris melakukan dosa besar atas nama Islam. Siapapun yang membaca dengan jujur sumber utama Islam yaitu al-Qur’an dan hadits juga akanberkesimpulan sama. Prinsip-prinsip inti dari al-Qur’an dan hadits telah menjadi rujukan para ulama selama berabad-abad yang seumur hidup mereka mempelajari sunnah nabi, serta “pesan-pesan Pencipta” al-Qur’an itu sendiri, dan al-Qur’an dan hadits dengan tegas menolak setiap klaim teroris yang menggunakan agama untuk membenarkan tindakan mereka.

Kedua, amat penting untuk memperkenalkan pemahaman Islam secara menyeluruh, mengingat seringkali Islam yang sejatinya fleksibel dalam mengakomodasi berbagai latar belakang penganutnya sering disalahgunakan. Walaupun demikian, prinsip-prinsip etis Islam yang paling inti sesungguhnya tidak dapat ditafsirkan secara berbeda. Salah satunya adalah bahwa membunuh satu orang adalah kejahatan terhadap seluruh umat manusia (Quran 5:32). Bahkan dalam perang yang dilakukan untuk membela diri, kekerasan terhadap setiap non-kombatan, khususnya perempuan, anak-anak dan pendeta dilarang keras oleh Nabi.

Kita harus menunjukkan nilai-nilai tersebut dengan menunjukkan solidaritas dengan semua orang yang menginginkan perdamaian di seluruh dunia. Karena psikologi manusia dan dinamika pemberitaan dalam media, tidak dapat dipungkiri bahwa pemberitaan arus utama hanya akan mengangkat hal-hal bernuansa ekstrem. Akan tetapi ketimbang sekadar menyalahkan media, kita harus menemukan cara inovatif untuk memastikan suara kita didengar.

Ketiga, umat Islam harus mempromosikan hak asasi manusia secara terbuka, yang mencakup kehormatan, hidup dan kebebasan. Ketiganya merupakan nilai-nilai mendasar Islam dan tidak ada seorangpun, termasuk pemimpin politik maupun agama, yang dapat mencabutnya dari siapapun. Hidup berislam artinya menghargai keberagaman, baik budaya, sosial, agama maupun politik. Tuhan menyatakan bahwa tujuan utama manusia diciptakan beragam adalah untuk saling mengenal dan belajar (Quran 49:13). Menghargai setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan (17:70) berarti menghargai Tuhan.

Keempat, umat Islam harus memberikan kesempatan setiap Muslim dalam komunitasnya untuk belajar, dalam sebuah kerangka pembelajaran ilmu pengetahuan alam, sosial dan seni yang diintegrasikan dengan budaya untuk menghargai setiap makhluk hidup. Pemerintah di negara-negara Islam harus merancang kurikulum sekolah yang dapat menumbuhkan nilai-nilai demokratis. Masyarakat sipil memiliki peran untuk mempromosikan penghormatan dan penerimaan. Inilah alasan para pengikut gerakan Hizmet telah mendirikan lebih dari 1000 sekolah, pusat pelatihan dan institusi dialog di lebih dari 150 negara.

Kelima, memberikan pendidikan keagamaan bagi umat Islam amat penting untuk menghalangi kaum ekstremis menggunakan agama sebagai alat untuk menyebarkan ideologi sesat mereka. Keitka kebebasan beragama dicabut, sebagaimana telah terjadi selama beberapa puluh tahun terakhir di sebagian dunia Islam, agama tumbuh dalam ranah kegelapan, sehingga dapat ditafsirkan seenaknya oleh orang-orang radikal yang tidak memiliki kualifikasi yang layak.

Terakhir, umat Islam harus mendukung kesetaraan perempuan dan laki-laki. Perempuan harus diberikan kesempatan dan dibebaskan dri tekanan-tekanan sosial yang memposisikan mereka pada ketidaksetaraan. Umat Islam telah memiliki teladan yang luar biasa, yaitu istri Nabi SAW, ‘Aisyah, yang merupakan ulama perempuan yang amat terdidik sekaligus bertindak sebagai guru dan pemimpin masyarakat Islam pada masanya.

Terorisme adalah masalah multidimensi yang solusinya pun harus menyasar berbagai dimensi termasuk politik, ekonomi, sosial dan keagamaan. Pendekatan yang menyederhanakan masalah terorisme menjadi sekadar masalah agama akan amat merugikan kaum muda khususnya dan dunia pada umumnya. Masyarakat internasional dapat memainkan peran besar untuk menyadari bahwa umat Islam adalah korban utama dari terorisme baik secara harfiah maupun simbolis, dan juga dapat membantu memarjinalkan teroris dan mencegah terjadinya perekrutan. Karena itulah pemerintah manapun harus menghindari mengeluarkan pernyataan dan tindakan yang dapat menyebabkan alienasi terhadap umat Islam.

Ekstremisme dengan kekerasan tidak memiliki agama; akan selalu ada golongan yang memanipulasi naskah keagamaan tanpa memandang agama. Namun, sebagaimana mayoritas umat Nasrani tidak mendukung pembakaran Quran atau tindakan Ku Klux Klan, dan umat Buddha tidak mendukung kekejaman terhadap Muslim Rohingya, umat Islam secara umum pun tidak mendukung kekerasan.

Sepanjang sejarah, umat Islam telah berkontribusi besar terhadap perkembangan peradaban umat manusia. Sumbangan terbesar kita terjadi pada masa-masa ketika iman mendorong dan membuahkan rasa saling menghormati, kebebasan dan keadilan. Mungkin akan sulit untuk memulihkan kembali citra Islam yang telah tercoreng selama ini, namun umat Islam setidaknya dapat menjadi “mercusuar” perdamaian dan ketentraman di masyarakat masing-masing.

Fethullah Gülen adalah ulama Islam dan pendiri gerakan masyarakat sipil Hizmet.
Sumber: The Wall Street Journal, Aug 27, 2015

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message