Siapakah Fethullah Gülen?

Home » Indonesian » Profil » Biografi Fethullah Gülen » Siapakah Fethullah Gülen?

Siapakah Fethullah Gülen?

Muhammad Fethullah Gülen lahir pada tahun 27 April 1941 di Korucuk, sebuah desa kecil di Anatolia yang berpenduduk hanya sekitar 60–70 kepala keluarga. Desa ini termasuk distrik Hasankale (Pasinler) dalam wilayah provinsi Erzurum. Leluhur Gülen berasal dari distrik Ahlat (Khalat) yang bersejarah dan termasuk dalam wilayah provinsi Bitlis yang terletak di kaki gunung. Pada zaman dulu, keturunan Rasulullah Saw. ada yang berhijrah ke Bitlis untuk menyelamatkan diri dari kezaliman penguasa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Di tempat itu mereka menjadi pembimbing spiritual bagi masyarakat sehingga semangat ke-Islaman merasuk ke dalam jiwa suku-suku Turki yang tinggal di kawasan ini.

Fethullah Gülen lahir di keluarga yang sangat agamis dan sarat akan semangat ke-Islaman yang kental, dari pasangan suami-istri yang sangat taat. Kakeknya yang bernama Syamil Agha adalah sosok yang mencerminkan sikap sungguh-sungguh dan teguh dalam beragama. Sosok inilah yang memiliki ikatan sangat kuat dengan sang Cucu, Fethullah Gülen.

Ayah Gülen bernama Ramiz Gülen. Semasa hidupnya, Ramiz Gülen terkenal sebagai pribadi yang berpengetahuan tinggi, taat, dan cerdas. Tidak pernah sekali pun Ramiz Gülen melewatkan waktunya untuk melakukan sesuatu yang sia-sia. Selain itu, Beliau juga masyhur dengan kemurahan hati dan kedermawanannya.

Nenek Gülen dari pihak ayah bernama Munise Hanim. Munise dikenal sebagai seorang tokoh wanita yang sangat taat beragama dan ketaatanya itu tercermin dari kehidupannya sehari-hari.

Nenek Gülen dari pihak ibu bernama Khadijah Hanim. Dia berasal dari kalangan bangsawan yang terkenal dengan kelembutan dan kesantunannya.

Ibu Gülen bernama Rafiah Hanim. Dia adalah seorang pengajar al-Qur’an bagi kaum wanita di desanya dan terkenal dengan perangainya yang sopan dan menyukai kebaikan.

Dalam keluarga seperti ini itulah M. Fethullah Gülen tumbuh dewasa. Itulah sebabnya sejak dini Ia telah belajar membaca al-Qur’an dari ibundanya, dan ketika usiannya baru menginjak empat tahun, Muhammad Fethullah Gülen telah mampu mengkhatamkan al-Qur’an hanya dalam waktu satu bulan. Setiap tengah malam ibundanya bangun untuk menyampaikan nasehat dan mengajari Gülen bacaan al-Qur’an.

Jauh sebelum dia dilahirkan, rumah yang didiami Fethullah Gülen telah menjadi tempat berkunjung bagi banyak ulama yang tinggal di kawasan tersebut. Ramiz Gülen ayahnya memang diketahui sangat mencintai para ulama dan gemar bersilaturahmi dengan mereka, hingga hampir tiap hari ada saja ulama yang dijamu di rumahnya. Itulah sebabnya sejak Fethullah Gülen masih sangat belia, Ia telah terbiasa berkumpul bersama para ulama sampai akhirnya Beliau pun menyadari bahwa dirinya tumbuh di dalam sebuah keluarga yang dihiasi dengan ilmu dan ajaran tasawuf.

Pada saat itu, seorang ulama bernama Muhammed Lutfi  yang berasal dari Alvar diakui oleh Fethullah Gülen telah memberi pengaruh besar pada dirinya, sampai-sampai hampir setiap kata yang terlontar dari mulut Muhammed Lutfi disimak dengan baik oleh Gülen. “Seakan-akan kata-kata beliau adalah ilham yang datang dari alam lain,” demikian komentar Gülen mengenai Muhammed Lutfi gurunya. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, Fethullah Gülen pernah melontarkan sebuah pernyataan tentang Muhammed Lutfi “Saya dapat mengatakan bahwa saya telah berutang banyak kepada beliau atas semua yang telah beliau ajarkan dan membentuk karakter serta kepribadian saya.”

Fethullah Gülen mulai belajar bahasa Arab dan Persia dari ayahnya yang diketahui sangat giat menelaah berbagai buku dan tidak pernah terhenti merapalkan al-Qur’an di mana pun dia berada. Ramiz Gülen, ayah Fethullah Gülen, sangat mencintai Rasulullah Saw. dan banyak membaca buku tentang sejarah beliau. Di dalam rumahnya, siapa pun dapat menemukan tumpukan buku-buku sirah Rasulullah yang lusuh karena terlalu sering dibaca. Itulah sebabnya, salah satu nilai terpenting yang ditanamkan Ramiz Gülen kepada putranya, Fethullah Gülen, adalah kecintaan kepada Rasulullah Saw. dan para sahabat . Jadi, jika Anda ingin memahami kepribadian Fethullah Gülen, terlebih dulu harus memahami warisan paling berharga yang diberikan ayahnya, yaitu cinta yang dalam kepada Rasulullah dan para sahabat.

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message