Hak Asasi Manusia dalam Islam

Hak Asasi Manusia dalam Islam

Islam adalah agama yang seimbang, luas, dan universal dalam urusan hak asasi manusia. Namun ada orang-orang yang berusaha untuk meruntuhkan negara atau pemerintahan yang sah, atau yang telah tega merenggut hidup seseorang. Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa mengambil nyawa seseorang secara tidak adil adalah kejahatan terhadap seluruh umat manusia (Q.S. al-Maa‘idah: 32). Ajaran seperti ini tidak dapat kita temukan pada agama atau sistem modern manapun, dan nilai luhur seperti ini tidak pernah dilekatkan pada kehidupan manusia oleh komisi atau organisasi hak asasi manusia manapun. Dalam Islam membunuh satu orang dianggap seolah-olah membunuh seluruh umat manusia, karena mentolerir pembunuhan terhadap satu orang dapat memicu gagasan bahwa setiap orang dapat dibunuh.

Putra Nabi Adam as, Qabil, adalah manusia pertama yang menumpahkan darah. Meskipun namanya tidak disebutkan secara eksplisit dalam al-Qur’an atau Sunnah, kita belajar dari kitab-kitab sebelumnya bahwa antara dua bersaudara, Qabil dan Habil, telah terjadi kesalahpahaman dan Qabil telah membunuh Habil secara tidak adil karena cemburu, sehingga membuka sebuah era pertumpahan darah. Untuk alasan ini, dalam salah satu hadis, Rasulullah saw bersabda:

Tidak ada satu jiwa pun yang dibunuh karena kezaliman kecuali putra Adam yang pertama (yang membunuh) akan menanggung sebagian dari dosa pembunuhannya karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.[1]

Peristiwa ini, sebagai pelajaran penting, dinyatakan dalam al-Qur’an:

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (Q.S. al-Maa’idah: 27-28)

Dalam kaitannya dengan pembunuhan, ayat berikut menyatakan:

Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. (Q.S. al-Maa’idah: 32)

Prinsip ini bersifat universal dan karena itu berlaku sepanjang zaman. Ayat yang lain menyatakan:

Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Q.S. an-Nisaa’: 93)

Dalam hadis lain, Nabi saw menyatakan, “Orang yang terbunuh karena mempertahankan harta adalah syahid. Orang yang terbunuh karena mempertahankan darah (nyawa) adalah syahid. Orang yang terbunuh karena mempertahankan agama adalah syahid. Orang yang terbunuh karena mempertahankan keluarga adalah syahid”.[2] Semua nilai-nilai yang disebutkan dalam hadis ini telah dilindungi sebagai prinsip-prinsip yang terpisah dalam semua sistem hukum. Hal-hal ini dianggap penting dan sangat diperlukan dalam kitab undang-undang yang berisi hukum. Dari sinilah kebebasan beragama, kehidupan, reproduksi, kesehatan mental, dan hak milik pribadi menjadi hal-hal mendasar yang penting yang harus dipertahankan oleh semua orang. Islam memandang hak asasi manusia dari sudut prinsip-prinsip yang mendasar ini.

Hanya Islam yang menghormati umat manusia dengan gelar “khalifah Allah”. Tidak ada sistem atau agama lain melakukan hal ini. Selain itu, Islam menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan bumi tunduk kepada hukum Allah, untuk kepentingan umat manusia asalkan digunakan dengan cara yang benar. Bagaimana mungkin agama yang menganggap manusia sangat penting seperti ini bisa mengabaikan hak asasi manusia meskipun satu orang? (Lihat juga: Islam sebagai Agama Universal dalam buku ini.)

[1] Bukhari, Diyat, 2, Anbiya, 1; Muslim, Kasamah, 27.
[2] Tirmidzi, Diyat, 22; Abu Dawud, Sunnah, 32.

Share:

More Posts

Tempat-Tempat Hening dan Program Membaca

Tanya: Aktivitas yang diliputi oleh kebisingan dan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat manusia masa kini merasa butuh akan tempat menyepi dan desa yang hening. Tak hanya mereka, hati kaum mukminin juga ingin menggunakan kawasan-kawasan sunyi tersebut demi kehidupan hati dan jiwa mereka. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan supaya program yang disusun dapat memberikan hasil yang…

Tujuan yang diharapkan dari Pendidikan

Aku beberapa kali bertanya kepada teman-teman kita: “Apakah guru-guru Anda pernah bertanya seperti ini meskipun hanya sekali: ‘Murid-murid! Tujuan kita belajar adalah menjelaskan keindahan-keindahan agama kepada umat manusia yang merupakan anak yatim piatu dari negeri Atlantis yang hilang, di mana pandangan anak-anak ini tertuju pada cakrawala yang menjadi tempat bagi kebenaran muncul; mereka adalah anak-anak…

Refleksi Idulfitri

Pertanyaan: Apa yang akan Anda rekomendasikan untuk memastikan bahwa hari raya, yang merupakan hari sukacita dan kegembiraan, dapat dirasakan dan dihayati dengan baik dan dimanfaatkan sesuai dengan muhkamat agama? [1]
 
Jawaban: Dalam Islam, setiap ibadah dan perintah memiliki maknanya masing-masing. Kemampuan menyimak makna terdalam dalam setiap ibadah pertama-tama bergantung pada kualitas iman, dan kedua pada gagasan pembaharuan…

Hubungan Antara Orang Tua dan Anak

Pertanyaan: 
Sudah dikatakan dari sejak dahulu, sebagaimana juga ditegaskan dalam Al-Quran, bahwa anak adalah sarana ujian bagi orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut?[1]
 
Jawaban: 
Kehidupan dunia dengan segala rasa manis dan pahit getirnya adalah kehidupan yang menyiapkan proses perpindahan kita ke alam keabadian. Pada saat yang sama, hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Anak-anak meskipun…

Amanah Tugas

Tanya: Apakah tepat jika seseorang yang diberi amanah tugas berpikir bahwasanya kapasitas dirinya tidak memadai dan karena tak mampu menunaikan secara layak tugas yang diamanahkan kemudian mengajukan pengunduran diri?[1]
 
Menampilkan Sikap Tepat demi Menegakkan Kebenaran
Jawaban: 
Barangkali ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang mengajukan pengunduran diri dari tugas. Pertama-tama, kita harus mengevaluasinya dengan timbangan nurani dan akal sehat…

Representasi dari Cita-Cita Menghidupkan Orang Lain

Cita-cita menghidupkan orang lain yang meliputi pengertian memikirkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaannya sendiri, rela melakukan pengorbanan supaya orang lain bisa bahagia, hidup demi menjadi sumber kehidupan bagi orang lain, serta mengorbankan kehidupannya supaya orang lain bisa hidup merupakan cita-cita paling agung bagi manusia. Para nabi yang merupakan sosok manusia paling agung serta tokoh-tokoh mulia…

Sikap yang Tepat dalam Menyikapi Penugasan dan Mutasi

Tanya: Apa sikap yang tepat dalam menyikapi penugasan dan mutasi di setiap institusi?[1]
Jawab: Indikator keberhasilan penunjukan dan penugasan dalam suatu institusi, pertama-tama, dimulai dari rasa saling percaya antara pihak manajerial dengan staf yang akan ditunjuk atau ditugaskan. Apabila pihak manajerial atau divisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) menunaikan amanah yang dipercayakan kepada mereka dengan benar,…

Kriteria Pengorbanan dan Keseimbangan dalam Berinfak

Tanya:  Apakah terdapat batas dalam mengerjakan pengabdian-pengabdian di jalan Allah? Bagaimana seharusnya kriteria pengorbanan materi dan maknawi bagi seorang manusia yang mendedikasikan kehidupannya untuk pengabdian-pengabdian di bidang pendidikan?[1] 
 
Jawab: Sebagaimana diketahui, dari sisi hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada manusia yang derajatnya sama. Barangkali di antara mereka terdapat jarak yang jauhnya antara bumi dan…

Membantu Mereka yang Membutuhkan tanpa Ternodai Kepentingan Kelompok

Tanya: Salah satu sifat pembeda insan hizmet adalah dimilikinya karakter “membantu sesama”. Kegiatan apa saja yang bisa kita kembangkan untuk mempraktikkannya?[1]
 
Jawab: Membantu sesama adalah undangan yang paling fasih untuk mengajak orang lain menuju inayat Allah. Rasulullah bersabda: 
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ…

Lomba Tanpa Tanding

Tanya: murid-murid istimewa Al-Qur’an ditekankan supaya menjauhi sikap iri serta tidak memancing orang lain iri kepada mereka. Dari sisi ini, bagaimana Anda memandang sosok-sosok yang berada dalam barisan terdepan perlombaan kebaikan di mana zakat dan sedekah mereka tunaikan secara terang-terangan demi memotivasi semangat kebaikan orang lain? Lalu, bagaimana Anda melihat mereka yang tak mampu menjaga…

Send Us A Message